Miftau Rahman Taufik

Jadilah Yang Terbaik atau Jadilah Yang Berbeda.

Bacalah!

Dengan

Menyebut

Nama

Tuhan-Mu

Yang Menciptakan

Akun Saya

Anak Penjual Koran

diposting oleh mirata-fk13 pada 20 April 2014
di Renungan - 0 komentar

          Hatiku terenyuh dan terasa pilu ketika kemarin siang melihat seorang anak penjual Koran, tepatnya di perempatan lampu merah depan kampus A tercinta. Seorang anak perempuan yang berusia kira-kira 5 atau 6 tahun menawarkan korannya kepada para pengguna jalan yang sedang berhenti di lampu merah. Dia terlihat menjulurkan koran ke orang-orang tanpa mengeluarkan satu kata pun untuk mempengaruhi calon pembelinya. Tak ada yang membeli. Ingin rasanya ku membeli Koran anak itu agar dia sedikit merasa senang. Tapi apa daya, uang kembalian beli makan tadi (Rp 3000,-) sudah kubelikan gorengan terlebih dahulu. Walaupun begitu tak tampak perasaan sedih di mukanya.

          Ketika lampu hijau pun semua kendaraan berjalan ke tujuannya masing-masing. Seandainya aku bisa mengobrol dengan anak itu, pasti akukan bertanya “Dek, kamu sekolah gak?”,  ”Dek, orang tuamu kerja apa?”, “Bapak ibu masih lengkap?”, ”Kamu tinggal dimana?” dan pertanyaan-pertanyaan berikutnya.

          Ketika teringat berapa banyaknya dana yang habis untuk kampanye partai (baliho, spanduk, kaos, bendera, iklan di televisi, serangan fajar, dll) dan pemilu (kertas suara, kotak suara, distribusi, dana untuk tps, dll) yang mencapai miliaran bahkan triliyunan), bahkan harus dilakukannya pencetakan kertas suara lagi karena terjadinya banyak penggelembungan dan pemalsuan hasil pemilu, betapa mirisnya negeri ini.

          Masih banyak anak-anak yang putus sekolah, masih banyak sekolah yang tidak layak dan harus diperbaiki, masih banyak anak-anak jalanan, masih banyak anak-anak yang lebih membutuhkan dana kampanye dan pemilu tersebut, toh siapapun yang memimpin negeri ini, siapapun yang menang pemilu tidak akan membuat anak-anak tadi menjadi lebih sejahtera. Mereka hanya akan membuat partai dan golongannya lebih sejahtera saja.

          Satu lagi pelajaran yang bisa saya ambil, ketika uang beasiswa bidikmisi telat cair, semua anak bidikmisi mengeluh bahwa uangnya habis, banyak hutang. Tengoklah anak penjual Koran tadi, jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah SWT. Anak kecil saja bisa mencari uang untuk kelangsungan hidupnya. Masa mahasiswa seperti kita hanya bisa menggantungkan hidupnya dari beasiswa. Tak ada yang salah dengan bekerja sampingan sambil kuliah. Toh juga menambah pengalaman kita di dunia kerja nantinya.  Semoga bermanfaat dan bisa jadi bahan renungan kita bersama.

http://reruntuhan.files.wordpress.com/2012/03/img_1925.jpg

Bukan foto sesungguhnya, tapi miriplah (hasil googling).

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :